Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Januari 2011

Astabrata

Astabrata
Suatu Kajian Gaya Kepemimpinan


Astabrata dalam cerita Ramayana merupakan suatu wejangan yang diberikan oleh Prabu Ramawijaya kepada adiknya Raden Barata yang kala itu akan menjadi raja di kerajaan Ayodya menggantikan dirinya. Tidak hanya disinggung dalam lakon tersebut, masih dalam Ramayana, Astabrata juga disampaikan kepada Raden Wibisana saat akan menjadi raja kerajaan Alengka menggantikan kakaknya, Prabu Rahwana yang mati dalam peperangan Rama-Rahwana. Dalam cerita Mahabarata, Astabrata juga tetap dimunculkan, dalam lakon Makutharama diceritakan bahwa Astabrata disampaikan kepada Raden Arjuna oleh Begawan Kesawasidi yang tidak lain adalah Prabu Kresna yang merupakan titisan Prabu Ramawijaya, selanjutnya oleh Raden Arjuna, Astabrata disampaikan kepada putranya Raden Abimanyu dan kelak akan diwariskan kepada cucunya Raden Parikesit yang akan menjadi raja di kerajaan Astina.

Apa sebenarnya Astabrata yang disinggung dalam banyak lakon dan menjadi suatu pegangan para raja dan ksatria-ksatria besar?.
Pada intinya seorang pemimpin harus dapat memberikan kesejukan dan ketentraman kepada warganya; membasmi kejahatan dengan tegas tanpa pandang bulu; bersifat bijaksana, sabar, ramah dan lembut; melihat, mengerti dan menghayati seluruh warganya; memberikan kesejahteraan dan bantuan bagi warganya yang memerlukan; mampu menampung segala sesuatu yang datang kepadanya, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan; gigih dalam mengalahkan musuh dan dapat memberikan pelita bagi warganya. Pemimpin dan rakyat adalah mitra kerja dalam membangun persada tercinta ini. Tanpa rakyat, tidak ada yang jadi pemimpin, tanpa rakyat yang mencintainya, tidak ada pemimpin yang mampu melakukan tugas yang diembannya sendirian.


Astabrata terdiri dati kata Asta dan Brata
Asta berarti delapan
Brata berarti sikap atau tingkah laku
Astabrata berarti delapan pedoman/prinsip dalam bersikap atau bertingkah laku yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dalam kepemimpinan sosial. Delapan prinsip ini mengacu pada filosofi/sifat alam yaitu:

1.       Mahambeg Mring Kisma (meniru sifat bumi)
Watak pratala atau bumi atau lemah (Tanah); tansah adedana lan karem paring bebungah marang kawula. Hambeging bantala, werdine ila legawa ing driya; mulus agewang hambege para wadul. Danane hanggeganjar myang kawula kang labuh myang hanggulawenthah.”

Bumi bersifat suci dan kokoh. Seorang pemimpin yang meneladani sifat bumi senantiasa menjaga dirinya dari sifat-sifat tercela. Ia selalu menjaga kesucian perbuatannya, memiliki kekuatan yang kokoh, serta teguh dalam pendirian. Selain itu bumi juga bersifat adil. Barangsiapa menanam benih jagung akan tumbuh jagung, benih padi tumbuh padi. Adanya hadiah untuk yang berprestasi dan hukuman untuk yang melanggar juga harus dilaksanakan dengan baik.
Selain itu, bumi mempunyai sifat kuat dan bermurah hati. Selalu memberi hasil kepada siapa pun yang mengolah dan memeliharanya dengan tekun. Seorang pemimpin hendaknya berwatak sentosa, teguh dan murah hati, senang beramal, dan menjadi sumber kebutuhan hidup bagi siapa pun tetapi tidak bersifat sombong.

2.       Mahambeg Mring Kartika (meniru sifat bintang) diteladani dari Batara Ismaya
Watak Sudama atau lintang (Bintang); lana susila santosa, pengkuh lan kengguh andriya. Nora lerenging ngubaya, datan lemeren ing karsa. Pitayan tan samudana, setya tuhu ing wacana, asring umasung wasita. Sabda pandhita ratu tan kena wola wali. Hambeging kartika, tegese tansah dadya pepasrening ngantariksa madyaning ratri. Lakune dadya panengeraning mangsa kala, patrape santosa pengkuh nora kengguhan, puguh ing karsa pitaya tanpa samudana, wekasan dadya pandam pandom keblating sagung dumadi

Bintang adalah benda alam lainnya yang juga sarat makna. Benda ini menghiasi langit namun tidak sekadar sebagai hiasan belaka. Bintang merupakan pedoman arah bagi para pelaut zaman dahulu untuk menentukan arah mata angin. Seorang pemimpin yang meneladani sifat bintang senantiasa menjadikan dirinya sebagai teladan yang bisa dipercaya. Ia mampu menjadikan dirinya sebagai pedoman yang baik sehingga anggotanya bersedia mematuhinya tanpa rasa keterpaksaan. Gaya kepemimpinan bintang selalu berusaha menunjukkan jalan yang benar kepada para bawahannya (Ing Ngarsa Sun Tuladha, Ing Madya Mbangun Karsa, Tutwuri Handayani), tidak ragu menjalankan keputusan yang disepakati, serta tidak mudah terpengaruh oleh pihak yang akan menyesatkan.

3.       Mahambeg Mring Samirana (meniru sifat angin) diteladani oleh Batara Bayu
Watak Maruta atau angin; teliti setiti ngati-ati, dhemen amariksa tumindake punggawa kanthi cara alus. Hambeging maruta, werdine tansah sumarambah nyrambahi sagung gumelar; lakune titi kang paniti priksa patrape hangrawuhi sakabehing kahanan, ala becik kabeh winengku ing maruta

Angin selalu ada di mana-mana, tanpa membedakan tempat serta selalu mengisi semua ruang yang kosong . Hendaknya seorang pemimpin bisa bergaul dengan siapa saja tanpa membeda-bedakan golongan, tanpa membedakan derajat dan martabatnya, baik itu yang kaya ataupun yang miskin. Seorang pemimpin hendaknya selalu dekat dengan rakyat, bisa mengetahui keadaan dan keinginan rakyatnya. Mampu memahami dan menyerap aspirasi rakyat.

4.       Mahambeg Mring Candra (meniru sifat bulan) diteladani dari Batari Ratih
Watak Candra atau rembulan (Bulan); noraga met prana, sareh sumeh ing netya, alusing budi jatmika, prabawa sreping bawana. Hambege candra yaiku rembulan, tegese tansah amadhangi madyaning pepeteng, sunare hangengsemake, lakune bisa amet prana sumehing netya alusing budi anawuraken raras rum sumarambah marang saisining bawana.”

Bulan memancarkan sinar kegelapan malam. Cahaya bulan yang lembut mampu menumbuhkan semangat dan harapan-harapan yang indah  dan memiliki warna yang indah untuk dipandang. Apabila seorang pemimpin meneladani sifat rembulan maka ia hendaknya mampu memberi rasa nyaman bagi siapa saja yang memandangnya. Ia selalu bisa memberi kebahagiaan bagi siapa saja anggotanya yang mengalami kesedihan. Memberi “penerangan” bagi siapa saja anggotanya yang mengalami “kegelapan”, mampu menawan hati rakyatnya dengan sikap keseharian yang tegas/jelas dan keputusannya yang tidak menimbulkan potensi konflik. Seorang pemimpin hendaknya mampu memberikan dorongan atau motivasi untuk membangkitkan semangat rakyatnya, dalam suasana suka dan duka.

5.       Mahambeg Mring Surya (meniru sifat matahari) diteladani dari Batara Surya
Watak Surya atau srengenge (matahari); sareh sabareng karsa, rereh ririh ing pangarah. Hambege surya, tegese sareh ing karsa, derenging pangolah nora daya-daya kasembadan kang sinedya. Prabawane maweh uriping sagung dumadi, samubarang kang kena soroting Hyang Surya nora daya-daya garing. Lakune ngarah-arah, patrape ngirih-irih, pamrihe lamun sarwa sareh nora rekasa denira misesa, ananging uga dadya sarana karaharjaning sagung dumadi.

Matahari adalah sumber kehidupan di muka bumi. Matahari sebagai sumber energi bagi makhluk hidup. Manusia dan hewan mendapatkan makanannya tumbuhan, sedangkan tumbuhan bisa “memasak makanan” berkat bantuan sinar matahari. Matahari memancarkan sinar terang sebagai sumber kehidupan yang membuat semua makhluk tumbuh dan berkembang.
Jika seorang pemimpin meniru watak matahari tentunya ia akan selalu menjadi sumber kehidupan bagi rakyatnya (atau bawahannya). Ia akan selalu memajukan kreativitas anggota, bukan malah mematikannya. Seorang pemimpin hendaknya mampu menumbuh kembangkan daya hidup rakyatnya untuk membangun bangsa dan negara dengan bekal lahir dan batin untuk dapat tetap berkarya.

6.       Mahambeg Mring Samudra (meniru sifat laut) diteladani dari Batara Baruna
Watak Tirta atau samudra (air); tansah paring pangapura, adil paramarta. Basa angenaki krama tumraping kawula. Hambeging samodra, tegese jembar momot myang kamot, ala becik kabeh kamot ing samodra; parandene nora nana kang anabet. Sa-isene maneka warna, sayekti dadya pikukuh hamimbuhi santosa.”

Lautan luas tak bertepi, setiap hari menampung apa saja (air dan sampah) dari segala penjuru, dan membersihkan segala kotoran yang dibuang ke pinggir pantai. Bagi yang memandang laut, yang terlihat hanya kebeningan air dan timbulkan ketenangan. Seorang pemimpin hendaknya mempunyai keluasan hati dan pandangan, dapat menampung semua aspirasi dari siapa saja, dengan penuh kesabaran, kasih sayang, dan pengertian terhadap rakyatnya.
Laut, betapapun luasnya, senantiasa mempunyai permukaan yang rata dan bersifat sejuk menyegarkan. Seorang pemimpin hendaknya menempatkan semua orang pada derajat dan martabat yang sama, sehingga dapat berlaku adil, bijaksana, dan penuh kasih sayang terhadap rakyatnya.

7.       Mahambeg Mring  Mendhung (Angkasa) diteladani dari Batara Indra
Watak Mendhung; bener sajroning paring ganjaran, jejeg lan adil paring paukuman. Hameging hima, tegese hanindakake dana wesi asat; adil tumuruning riris, kang akarya subur ngrembakaning tanem tuwuh. Wesi asat tegese lamun wus kurda midana ing guntur wasesa, gebyaring lidhah sayekti minangka pratandha; bilih lamun ala antuk pidana, yen becik antuk nugraha

Angkasa (atmosfer) melindungi bumi dari sengatan matahari serta benda-benda antariksa seperti meteor dan asteroid. Gaya kepemimpinan angkasa adalah melindungi dan mengayomi anggotanya dengan penuh tanggung jawab. Angkasa juga menurunkan hujan yang menjadi berkah bagi bumi. Hendaknya seorang pemimpin mampu memberikan manfaat yang baik kepada rakyatnya atau anggotanya. Langit itu luas tak terbatas, hingga mampu menampung apa saja yang datang padanya. Seorang pemimpin hendaknya mempunyai keluasan batin dan kemampuan mengendalikan diri yang kuat, hingga dengan sabar mampu menampung pendapat rakyatnya yang bermacam-macam.

8.       Mahambeg Mring Dahana (meniru sifat api) diteladani dari Batara Brahma
Watak Dahana atau geni atau api; dhemen reresik regeding bawana, kang arungkut kababadan, kang apateng pinadhangan. Hambeging dahana, lire pakartine bisa ambrastha sagung dur angkara, nora mawas sanak kadang pawong mitra, anane muhung anjejegaken trusing kukuming nagara

Api yang membakar dan menyala-nyala pun bisa diteladani oleh para pemimpin. Gaya kepemimpinan api selalu berusaha membakar semangat anggotanya. Seorang pemimpin yang bersifat api mampu memotivasi anggotanya dengan baik kepada kebaikan, memerangi kejahatan serta menghangatkan hati. Ia juga adil, memberikan kehangatan bagi siapa saja yang mendatanginya dari segala arah, tanpa membeda-bedakan golongan.
Selain itu api mempunya kemampuan untuk membakar habis dan menghancur leburkan segala sesuatu yang bersentuhan dengannya. Seorang pemimpin hendaknya berwibawa dan harus bisa menegakkan kebenaran dan keadilan secara tegas dan tuntas tanpa pandang bulu.

Versi lain menyebutkan Astabrata terdiri dari matahari, rembulan, gunung, bumi, air, api, angin, dan air. Dengan pemaparan air dan gunung sebagai berikut:

1.       Mahambeg Mring Warih (meniru sifat air)
Air mengalir dan melarutkan banyak benda. Seorang pemimpin mampu memberikan solusi terhadap setiap permasalahan yang timbul. Air mengalir dari mata air menjadi sungai, muara dan akhirnya menjadi lautan yang menampung segalanya. Seorang pemimpin yang baik adalah dia yang bersifat seperti lautan yang luas. Dia berjiwa besar, tidak hanya mau menerima pujian saja, tapi juga saran dan kritik yang ditujukan kepadanya. Di samping itu, air mengalir dari tinggi ke tempat yang lebih rendah bermakna seorang pemimpin harus bisa menyatu dengan rakyat sehingga bisa mengetahui kebutuhan riil rakyatnya sehingga membuat rakyat akan merasa sejuk, nyaman, aman, dan tentram bersama pemimpinnya di mana kehadirannya selalu diharapkan oleh rakyatnya.

2.       Mahambeg Mring Wukir (meniru sifat gunung)
Seperti sifat gunung, yang teguh dan kokoh, seorang pemimpin harus memiliki keteguhan-kekuatan fisik dan psikis serta tidak mudah menyerah untuk membela kebenaran maupun membela rakyatnya. Tetapi juga penuh hikmah tatkala harus memberikan sanksi. Dampak yang ditimbulkan dengan cetusan kemarahan seorang pemimpin diharapkan membawa kebaikan seperti halnya efek letusan gunung berapi yang dapat menyuburkan tanah.


Sumber :
Solichin. 2010. Wayang Masterpriece Seni Budaya Dunia. Jakarta : Sinergi Persadatama Foundation.
http://lelenggono.wordpress.com/2009/10/01/filosofi-astabrata/
Pakde Sutrisno atas wejangan Astabrata kepada penyusun

Sabtu, 25 Desember 2010

Dwi Satya, Dwi Darma, Tri Satya, Dasa Darma

Kode kehormatan pramuka terdiri atas janji disebut “Satya” dan ketentuan moral disebut “Darma”. Kode kehormatan ini sangat baik jika dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya terbatas dalam lingkungan kepramukaan namun dalam seluruh sendi kehidupan berbangsa dan bernegara untuk mewujudkan bangsa dan negara yang seutuhnya.
Kode kehormatan yang sering kita kumandangkan saat mengikuti kegiatan kepramukaan kebanyakan hanya sekedar hafalan, tetapi kurang meresapi dan memandang manfaatnya. Melalui tulisan ini, penulis berharap pembaca dapat mengingat kembali satya dan darma luhur pramuka yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kode kehormatan pramuka disesuaikan dengan golongan usia dan perkembangan rohani dan jasmani. Hal ini dimaksudkan agar dapat dengan mudah mencerna dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari sejak dini dan diharapkan tidak terputus saat dewasa atau tidak lagi mengikuti pramuka.
Dwisatya dan Dwidarma untuk pramuka Siaga (7-10 tahun)
Trisatya dan Dasadarma untuk pramuka Penggalang (11-15 tahun), pramuka Penegak (16-20 tahun), pramuka Pandega (21-25 tahun), dan pramuka Dewasa (lebih dari 25 tahun).
a)   Dwi Satya
Dwi = dua; satya = janji
Aku berjanji :
1.  Akan bersungguh-sungguh menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan mengikuti tata krama keluarga
2.  Setiap hari berbuat kebaikan
b)  Dwi Darma
Dwi = dua; darma = ketentuan moral  
1. Siaga berbakti kepada ayah bundanya
2. Siaga berani dan tidak putus asa
      c)   Tri Satya
      Tri = tiga; satya = janji
        Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh: 
       1. menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengamalkan Pancasila 
       2.  menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat 
       3.  menepati Dasadharma
        d)   Dasa Darma
        Dasa = sepuluh; darma = ketentuan moral
        1.  Takwa kepada Tuhan yang Maha Esa
        2.  Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia
        3.  Patriot yang sopan dan ksatria
        4.  Patuh dan suka bermusyawarah
        5.  Rela menolong dan tabah
        6.  Rajin, terampil, dan gembira
        7.  Hemat, cermat, dan bersahaja
        8.  Disipilin, berani, dan setia
        9.  Bertanggung jawab dan dapat dipercaya
        10. Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan

        Jumat, 17 Desember 2010

        MAKNA ORNAMEN DALAM GUNUNGAN (WAYANG JAWA)

        Gunungan Melambangkan Pusat Seluruh Kehidupan, Lambang Ketuhanan
                    Gunungan dalam wayang biasa juga disebut kayon, yaitu salah satu unsur yang mendukung pergelaran wayang. Dalam gunungan terdapat ornamen yang sangat unik dan makna yang dalam. Disebut gunungan karena berbentuk segitiga, seperti gunung. Disebut kayon, semula berasal dari bahasa arab “chayu” yang berarti hidup.
                    Gunungan atau kayon merupakan pusat perkerilan yang diartikan sebagai lambang bahwa pada awal mulanya sebelum ada kelahiran, pertama kali yang ada adalah kayu (hidup), yang dimaksudkan sebelum Bapak Adam lahir ke bumi yang ada hanyalah pohon dan binatang – binatang buas.
                    Dalam ornamen gunungan di dalamnya terdapat berbagai lukisan sebagai berikut :
        1. Rumah dengan pintu tertutup
        2. Ular atau naga
        3. Rusa berekor
        4. Ayam di atas pohon / ayam alas
        5. Kera / monyet
        6. Banteng
        7. Singa / harimau
        8. Burung
        9. Kepala raksasa
        10. Dua raksasa bermulut lebar dan bersayap garuda
        11. Bejana berbentuk bunga padma
        dalam gunungan itu memiliki makna yang erat hubungannya dengan kehidupan manusia. Makna dari masing – masing lukisan adalah sebagai berikut :

        Pintu gerbang melambangkan jalan masuk ke dalam alam gelap, yang merupakan batas antara alam terang (dunia fana) dengan alam gelap (alam baka / akherat) yang sering disebut juga kerajaan maut.
        Di alam baka segala sesuatunya diterima sebagai hal yang bernilai tinggi akan kemanfaatannya. Semua yang ada di sekitarnya dalam keadaan sangat subur dan makmur. Segala kehidupan di alam baka semua diliputi rasa tenang dan tentram.
        Makna tersebut dapat dilihat juga dalam cerita Dewa Ruci, yaitu sewaktu Bima masuk di dalam tubuh Dewi Ruci. Dilukiskan bahwa waktu Bima berada di dalam tubuh Dewa Ruci, seperti memasuki alam gelap, semua perasaan tertutup tiada merasakan sesuatu. Dalam suasana demikian itu, seolah – olah berada dalam kerajaan maut. Dalam keadaan gelap tersebut kemudian nampak bercahaya, tetapi tanpa penyinaran, sehingga banyak jalan menuju ke segala arah tanpa ada ujung pangkalnya. Hal yang demikian menggambarkan adanya petunjuk dari Sang Pencipta, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Petunjuk / jalan yang diberikan oleh Tuhan tersebut juga tidak jelas mana yang benar dan mana yang salah.
        Dari makna tersebut Dr. Hidding mengemukakan bahwa kakayon itu diartikan sebagai lambang suatu tempat atau sumber hidup dan kehidupan dengan sifat baik dan buruk serta berbahaya. Kayon merupakan lambang atau gelanggang perjuangan semua sifat.

        Ular atau naga diartikan sebagai lambang sejatining urip, menggambarkan betapa sulitnya jalan berliku – liku yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan.

        Rusa yang berekor yang sering disebut komodo adalah binatang aneh yang diartikan sebagai lambang kemauan hidup yang bermacam – macam tanpa mempertimbangkan segi untung ruginya, hanya memburu kesenangan.

        Ayam di atas pohon melambangkan suatu tantangan hidup yang akan datang. Waktu fajar menyingsing selalu ditandai ayam berkokok. Suatu pertanda di hari esok penuh dengan tantangan kehidupan.

        Kera / monyet melambangkan ketangkasan dalam kehidupan yang belum tentu menjamin terkabulnya suatu keinginan dan merupakan binatang yang dapat menampilkan keuletan dalam menempuh kehidupan.

        Banteng melambangkan watak atau pendirian yang jujur, kuat, tidak / pantang menyerah demi tujuan yang suci.

        Singa / harimau adalah suatu lambang keindahan yang disertai gengsi atau kewibawaan dan juga tangguh dalam menghadapi lawannya.

        Burung melambangkan suatu kesenangan dan lambang ketentuan. Suara burung di fajar menyingsing merupakan pertanda ketentuan di hari esok.

        Kepala raksasa melambangkan kewaspadaan dalam menempuh jalan menuju kesempurnaan hidup. Dalam pewayangan tokoh ini ditampilkan sebagai penguasa hutan rimba. Dia adalah Batara Kala, dewa yang berkuasa atas keadaan sakit dan mati. Hutan rimba adalah tempat menempa tokoh ksatria dalam mencapai tingkat kesempurnaan hidup.

        Dua raksasa bermulut lebar dan bersayap garuda yang disebut bledegan, adalah lambang penguasa empat nafsu, yaitu mutmainah, supiah, aluamah, dan amarah.

        Bejana berbentuk bunga padma yang terletak di pucuk pohon, berisikan air suci. Air suci adalah air kehidupan yang diberikan oleh Sang Pencipta. Bagi yang memperoleh air tersebut dapat menyucikan hidupnya dan akan sempurnalah hidupnya.

        Dari uraian makna yang ada maka jelas bahwa lukisan yang ada pada gunungan mengandung makna filosofis dan mistik. Gunungan melambangkan pusat seluruh kehidupan, yang berarti lambang Ketuhanan (Tuhan YME). Sedangkan kayon adalah lambang permulaan hidup yang menjelma di dalam dan di atas kerajaan maut. Dari uraian yang ada, maka gunungan memiliki banyak fungsi tergantung ceritera yang akan dipagelarkan.

        Buana Minggu, 19 November 1989

        KALPATARU POHON PENGHARGAAN

        Kalpataru Sebagai Lambang Kehidupan dan Kelestarian Lingkungan Hidup


        Kalpataru, pohon keramat. Kalpa berarti keinginan atau penghargaan; taru berarti pohon; kalpataru berarti pohon pengharapan. Pohonnya keluar dari vas atau jambangan bunga yang sekaligus berfungsi sebagai tempat penyimpanan kekayaan.

        Vas bunga ini diapit oleh suatu jenis hewan seperti harimau, kijang, biri – biri, monyet, bajing, kinara kinari (makhluk sorga, berkaki dan bersayap burung dengan dada dan kepala manusia) atau diapit oleh jenis burung seperti angsa, merak, kakatua, atau pelikan. Puncak pohonnya juga diapit oleh sepasang burung tetapi kadang – kadang tanpa burung pengapit.

        Pohonnya sendiri berupa dahan, ranting, daun besar – besar serta bunga – bunga mekar, kadang – kadang ada burung di tengah pohon ini. Di puncak pohon sering ada payung yang disebut chattra. Pohon ini dapat mempunyai dua; empat; atau enam cabang, yang terakhir ini jarang ada. Pohon ini selalu digambarkan berbunga sedang mekar dan kadang – kadang dari kelopak bunga dimuntahkan untaian manik – manik. Perhiasan ini juga ditempatkan pada vas bunga dan pada leher kinara kinari.

        Pohon kalpa tidak dapat dilacak sebagai pohon yang nyata, pohon ini hanya khayal, hanya cita – cita. Kerimbunan pohon itu saja sering dicari persamaannya dengan pohon beringin, pohon bodhi atau pohon preh (disebut juga pohon lo). Pohon yang rimbun ibarat wanita yang subur dan ini ada hubungannya dengan pemujaan kepada Dewi Ibu. Pohon kalpa juga merupakan kesatuan antara Dunia Atas dan Dunia Bawah. Dunia Atas diwakili oleh beberapa jenis burung, Dunia Bawah diwakili oleh air (di dalam pohon), ular, kerbau, dan bumi.

        Kalpataru dianggap suci, dihormati, dan dipuja, sehingga dalam masyarakat Hindu (Indonesia sebelum datangnya Islam) pohon itu dianggap keramat. Hal ini sejalan dengan kepercayaan asli terhadap dinamisme dan animisme yang mempercayai adanya kekuatan gaib pada benda – benda dan adanya roh di sekitar manusia. Kekuatan gaib melekat pada benda besar seperti pohon, gunung, dan sungai. Dalam tradisi keraton di Jawa, pohon – pohon besar seperti beringin masih ditanam dan dihormati.

        Komponen kalpataru yang berupa hewan pengapit, vas bunga, kalung mutiara, chattra, dan burung di atas pohon, semuanya melambangkan berbagai aspek kehidupan. Hewan pengapit dan burung di atas pohon adalah penjaga keamanan, jadi lambang ketentraman. Vas bunga lambang kekayaan, kemakmuran, dan kesuburan. Pohonnya penuh dengan bunga mekar dianggap dapat memberikan : buah – buahan, makanan, pakaian, perhiasan, dan kekayaan serta kesenangan. Sedangkan Chattra melambangkan kesucian. 

        Kalpataru dengan semua komponennya mengandung perlambang: ketentraman, kemakmuran, kesuburan, kesenangan hidup, dan kesucian. Dapat disimpulkan bahwa kalpataru adalah lambang kehidupan yang sejahtera lahir dan batin.

        Sering kita menjumpai istilah penghargaan kalpataru, penghargaan ini ditujukan untuk seseorang atau kelompok masyarkat yang telah berpartisipasi dalam memelihara dan menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup. Mengapa  lambang kalpataru yang dipilih? Hal ini dikarenakan kalpataru juga memiliki arti sebagai pohon kehidupan. Pendahulu Bangsa Indonesia menorehkan  pahatan kalpataru untuk menggambarkan suatu tatanan lingkungan yang serasi, selaras, dan seimbang antara hutan, tanah, air, udara, dan makhluk hidup.